#Bacth 4
Riyadhus Sholihin (hak suami pada istri)
Hadits 1 (Riwayat Bukhori-Muslim):
“Abu Hurairoh ra berkata, Rosululloh bersabda, jika suami memanggil istri untuk tidur bersama, namun istri menolak sehingga semalam itu suami marah padanya, maka malaikat mengutuk istrinya hingga pagi hari”.
Dalam riwayat lain:
“Demi Alloh yang jiwaku ada di tangannya, tiada seorang suami yang mengajak istrinya untuk tidur di ranjangnya, namun istrinya menolak, maka yang di langit akan marah hingga suaminya ridho”.
Hadits 2 (Riwayat Bukhori-Muslim):
“Abu Hurairoh ra berkata, Rosululloh bersabda, tiada dihalalkan bagi seorang istri berpuasa sunnah diwaktu ada suaminya melainkan dengan izin suaminya, juga tidak boleh istri mengizinkan orang masuk ke rumahnya melainkan atas izin suaminya”.
Hal ini termasuk saudara sepupu dan saudara ipar.
Hadits 3: (riwayat at-tirmidzi dan An nasa’i)
“apabila seorang suami memanggil istrinya dalam rangka memenuhi hajatnya harus segera disambut meskipun sedang memasak makanan di atas api”.
Wanita sholehah à jika diperintah taat, jika dipandang menyenangkan. (wanita dituntut untuk merawat diri terutama saat di depan suami. Buatlah suami selalu senang ketika memandang istrinya karena suami yang benar adalah suami yang dengan sepenuh hati menjaga dirinya karena di rumahnya ada surga).
Rosululloh menasehati kepada para pria,”Jika kamu tertarik pada wanita selain istrimu baik karena kamu diganggu ataupun terganggu, maka segera pulanglah. Karena apa yang ada pada wanita yang kamu tertarik padanya, ada pula pada istrimu. Oleh karena itu para istri dituntut untuk selalu siap”.
Betapa pentingnya suami yang faham fiqul ahkam dan penerapan fiqud dakwah.
Sang suami dalam bahasan fiqih dilarang tidak pernah mendatangi istri pada saat dirinya suci, paling tidak satu kali.
Wanita pun membutuhkan hajat biologis. Wanita bisa menahan dirinya sekitar 4 bulan. Sebaiknya memang ada kesepakatan berupa jadwal, tetapi kalaupun tidak ada, tidak masalah.
Dalam bahasan kesehatan minimal ditanami 2 kali dalam satu minggu. Semakin sering, akan semakin sehat.
Pedoman yang harus dipegang adalah:
Q.S 2:187, Q.S 2:223, hadits nabi (baiti jannati)
“andaikan saya dapat menyuruh orang untuk sujud pada orang lain, maka akan saya suruh istri sujud pada suami”. Ingat ini hanya ‘andainya’, karena pada hakikatnya bersujud hanya pada Alloh.
“setiap istri yang meninggal dan diridhoi oleh suaminya, maka akan masuk surga”
“tiada ku tinggalkan sesudah matiku suatu fitnah yang lebigh berbahaya dari laki-laki yaitu dari fitnah wanita” (riwayat bukhori-muslim)
Sekalipun wanita itu berkarier, tetap tidak boleh meninggalkan esensi.
Ada tiga hal yang perlu diperhatikan: iman, ibadah, dan dakwah
Betapa bertanggungjawabnya suami terhadap istri, karena yang diminta pertanggung jawaban di akhirat atas istri dan keluarganya adalah suaminya.
Q.S. 20: 132.
Suami yang baik adalah ketika tidur, dia paling akhir, jika bangun, dia paling awal. itupun dicek apakah anak dan istrinya sudah sholat atau belum. Jika ada keluarga yang seperti ini maka Alloh akan menurunkan rahmatnya.
Beberapa hal yang berkaitan dengan ciri atau karakter dari mar’ah sholehah adalah:
- Taat pada suami di jalan Alloh
- Menjaga dirinya dan harta suaminya terutama saat suami tidak ada
- Menjadi partner suami di jalan Alloh
- Dia adalah istri yang selalu dalam keadaan menarik, rapi, bersih, sehingga suaminya senantiasa senang pada saat melihat dan berinteraksi dengannya. Istilah mudahya, pengalaman pertama agar senantiasa dipertahankan. Ini tujuannya untuk memikat suami, karena ini dapat pahala.
- Menerima dengan lapang/tulus pemberian suaminya baik itu sedikit ataupun banyak termasuk jika misalnya sang istri kurang begitu suka. Ada hadits, dari Aisyah “istri yang paling besar berkahnya adalah yang paling sedikit biayanya”.
- Istri yang berakhlaq mulia terhadap suaminya baik ucapan ataupun tindakannya dan senantiasa bergairah serta mesra serta tidak menyusahkan suaminya.
- Istri yang mampu atau pandai bergaul, berinteraksi dengan baik dengan keluarga besar suaminya. (tapi tetap perhatikan batasnya (dengan saudara ipar dan sepupu))
- Istri yang mampu menjaga perasaan suaminya dan mampu mensyukuri kebaikan suaminya. Ada hadits,” Ya Rosululloh mengapa kaum wanita banyak dineraka? (salah satunya) karena kaum wanita suka menghapus kebaikan suaminya. Sebenarnya suami telah berbuat baik, tapi istrinya berkata “kau memang tidak pernah berbuat baik padaku”. Sebaik-baik istri adalah apabila diberi dia bersyukur, bila tidak diberi dia bersabar. Engkau senang bila memandangnya, dan dia taat ketika engkau menyuruhnya.
- Istri yang sholehah adalah istri yang memperhatikan keperluan suaminya termasuk makan, jaga ketenangan waktu tidurnya. Karena makan akan menimbulkan kepedihan dan terganggunya tidur akan menimbulkan kemarahan.
- Istri yang sholehah hendaklah berbuat sesuai dengan keadaan dan kemampuan sumberdaya suaminya. Jangan meminta sesuatu yang diluar kemampuan suaminya.
- Sambutlah sang suami setiap datang dengan wajah yang ceria dan tunjukkanlah bahwa istri sangat merindukannya. Kisah abu Thalhah, dia punya satu-satunya anak yang sedang sakit. Istri yang sholehah, dia mendukung dan dia bertekad menjaga anaknya dan meminta abu tholhah berangkat. Saat ditinggalkan oleh beliau, sang anak meninggal. Saat anak ini meninggal, sang anak diletakkan di kamar dan istri meyambut suaminya dengan wajah ceria dan menunjukkan kerinduannya. Malamnya mereka berhubungan suami istri, sholat subuh, dan menyiapkan sarapan. Pagi itu sang istri masih sempat berdakwah pada suaminya. Ia menganalogikan meninggalnya anaknya sebagai sesuatu hal titipan. Dia menyampaikan dengan lembut pada abu tholhah. Dan oleh Alloh hubungannya malam itu dibuat jadi dan melahirkan anak yang sholeh-sholehah.
- Menyadari bahwa melalui sang suami ada peluang untuk mendekatkan dirinya pada Alloh. Misalkan senyum pada suami dapat pahala, menyiapkan menu dapat pahala, dan lain sebagainya.
Dalam hadits lain “dari Hafsah, sesungguhnya Nabi SAW biasa mencium istrinya sekalipun sedang berpuasa”. Hadits lain “istri-istri nabi membantu Rosululloh dalam menyiapkan air dan menutupi pada waktu mandi. Kemudian istri nabi menyiapkan siwak, menyiapkan handuk, bahkan menyisiri rambutnya serta meminyaki jenggotnya. Kemudian mandi bersama”. Hadits lain “dari Aisyah ra, aku biasa mandi bersama dengan nabi SAW dengan satu bejana. Kami biasa bersama-sama memasukkan tangan kami ke dalam bejana”.
Bagi seorang ibu, senantiasa mengatur perlengkapan rumah tangga dengan baik. Sehingga ketika suami pulang, suami tidak merasa jenuh.
Mengatur kelahiran dijelaskan dalam Q.S. 4:9 à jangan sampai dalam rumah tangga melahirkan keturunan-keturunan yang lemah. Bisa dengan cara menghitung masa subur (seminggu di awal dan seminggu di akhir à terhitung dari waktu haid). Dan 7 hari pertama yang subur adalah kromosom X sedangkan 7 hari yang belakang adalah kromosom Y. Itulah hikmahnya jumlah wanita lebih banyak perempuan dibanding laki-laki. Selama wanita yang menyusui secara konsisten menyusui bayinya maka sang ibu dalam keadaan tidak fertil. Tapi jika sekali saja berhenti, maka wanita itu langsung dalam keadaan subur.
Perihal alat kontrasepsi, ingat kembali niatnya. Jika niatannya lurus, baru berbicara teknisnya. Selama teknisnya tidak mengganggu metabolisme dalam tubuh dan sesuai syariat, maka hal itu diperkenankan.
Tiga hal yang perlu dipegang dan dipertimbangkan saat kita melangkah:
- Aqidah
- Ibadah
- Dakwa
No comments:
Post a Comment