“Hiburlah jiwa kalian, sesaat barang sesaat. Karena jiwa itu bisa berkarat. Seperti besi yang bisa berkarat.” (Ali bin Abi Tholib)
Rutinitas harian terkadang membuat diri ini bosan bahkan suatu saat
bisa sampai pada titik kejenuhan. Titik puncak dari segala macam
aktivitas kita. Suatu titik dimana diri ini tidak ingin melakukan apapun
atau tak tahu lagi harus melakukan apa. Bila menelisik lebih jauh
kata-kata Ali bin Abi Tholib di atas, adalah benar jika jiwa kita bisa
berkarat, oleh karena itu jiwa ini memerlukan hiburan. Hiburan disini
dapat diartikan jeda dalam hidup (ini menurut pendapat saya pribadi).
Jeda tidak serta merta diartikan berhenti. Jeda dapat dilakukan lewat ibadah.
Dengan ibadah kita bisa mengambil bekal. Ibadah diibaratkan sebagai
sebuah oase di tengah padang kering nan tandus. Kita meminum airnya
sebagai pengobat dahaga, ya, dahaga yang diibaratkan sebagai perjalanan
hidup yang panas dan melelahkan.
Seorang tokoh Indonesia yang dikenal dengan perang gerilyanya, ya,
beliau adalah pangeran Diponegoro. Beliau melakuakan jeda melalui
ibadah. Tidak banyak yang tahu memang. Suatu hari pada akhir Februari
1830, Pangeran Diponegoro memasuki Magelang, dari markas tentaranya di
pegunungan Manoreh, untuk melakukan perundingan gencatan senjata dengan
penjajah Belanda. Di sana Jenderal de Kock, Kepala Markas Besar Tentara
Belanda, telah menunggunya. Tak lama kemudian bulan Ramadhan tiba.
Diponegoro dengan tegas menolak melanjutkan perundingan sampai bulan
Ramadhan berakhir. Ia juga menegaskan, dalam bulan puasa ia tidak mau
mengadakan perjanjian, tidak mau pikirannya terpecah. Ia ingin total,
khusyu beribadah. Saat seperti dimanfaatkan oleh de Kock untuk berbuat
licik. Dia memberikan Diponegoro sejumlah uang, kuda, cita dan kain
untuk prajuritnya. Tapi Diponegoro dengan tegas menolak semua
itu.”Berikan saja pada orang lain”, tegasnya. Dia tidak ingin banyak
berkata-kata karena tak ingin konsentrasi ibadahnya terganggu. De Kock
ternyata tidak kehilangan akal, dia terus melancarkan ide-ide liciknya.
Dia tiba-tiba menghadapkan Diponegoro pada dua orang putrinya dan ibunya
yang sengaja dia lepaskan dari penjara. Namun Dipenegoro sama sekali
tidak bersikap lunak pada Belanda. Dia tetap tidak mau banyak
berkata-kata. Suatu hari pada tanggal 28 Maret 1830, perundingan
lanjutan dimulai. De Kock menanyakan keinginan Diponegoro, dan jawaban
Diponegoro sungguh di luar dugaan de Kock,”Hari ini saya datang untuk
memperlihatkan muka sesudah bulan puasa. Selama bulan puasa saya dengan
ikhlas tidak memikirkan perkara dunia. Dalam 29 hari itu saya berhadapan
dengan Tuhan dan membersihkan jiwa dan sekali-kali tidak memikirkan
rapat ini”. De Kock naik darah. Dia menyangka Diponegoro sudah melemah.
Selama jeda sebulan puasa Diponegoro tidak menjadi macan yang kehilangan
kuku, bahkan sebaliknya. Ketika perundingan gagal, Pangeran Diponegoro
tak dibiarkan kembali ke bukit Manoreh, melainkan ditangkap dan dibuang
ke Manado dan Makassar. Hal ini sebelumnya sudah diduga oleh Diponegoro,
seperti dituturkannya dalam babad yang ditulisnya dalam pembuangan.
Selain lewat ibadah, jeda juga dapat dilakukan lewat introspeksi.
Wahb bin Munabbih berkata, tentang hikmah keluarga Daud,”Orang yang
berakal layak untuk tidak melalaikan empat saat: Saat dia bermunajjat
pada Rabb-nya, saat dia mengevaluasi dan menghitung dirinya, saat dia
menemui teman-temannya yang mengingatkan aibnya, dan saat dia sendirian
dalam kenikmatannya dalam hal-hal yang halal”. Melakukan evaluasi juga
menjadi kebiasaan para sahabat. Salah satu dari beliau bahkan disebut
oleh Rosululloh sebagai calon penghuni surga karena setiap malam ia
selalu mengevaluasi diri dengan membuang segala macam perasaan tidak
suka dengan setiap muslim.
Jeda juga dapat dilakukan dengan melakukan misi perjalanan.
Hal ini seperti yang diperintahhkan oleh Alloh melalui firman-Nya dalam
Al Qur’an agar berjalan di muka bumi. Kita bisa menyaksikan berbagai
tanda kekuasaan Alloh untuk diambil hikmah dan pelajaran yang terkandung
di dalamnya. Dalam perjalanan tidak hanya stamina baru yang diperoleh
tapi juga karya-karya ilmiah. Inilah yang biasa dilakukan oleh para
shalafussholih yang notabene banyak terkenal dengan bepergiannya.
Melakukan penghayatan hal-hal lain di luar diri juga
merupakan salah satu cara untuk melakukan jeda dalam hidup. Terkadang
rutinitas harian kita seringkali menjebak kita dalam kehidupan yang
monoton. Bahkan seringkali kita seringkali tidak diberi kesempatan untuk
menghayati kehidupan orang lain. Akibatnya rasa empati dan persaudaraan
berkurang. Hati ini kerap kali membatu. Tidak dapat merasakan bagaimana
susahnya hidup miskin, makan dan minum seadanya bahkan kerap kali
kekurangan, dan masih banyak kesulitan hidup yang lain. Subhanalloh saya
mendapatkan inspirasi dari salah satu tokoh negeri ini. Beliau adalah
mantan perdana menteri Indonesia (saat Indonesia masih menganut sistem
pemerintahan parlementer). Ya, beliau adalah almarhum Mohammad Natsir.
Beliau selalu membuka diri untuk rakyat. Hal ini menjadi jeda yang
menambah rasa syukurnya pada Alloh. Sewaktu beliau menjabat sebagai
perdana menteri, seorang pengurus musholla di daerah Kwitang, dengan
mudahnya menemui Natsir di kediamannya. Ia mengeluh soal tikar musholla
yang rusak. Sewaktu Natsir menerimanya dengan sungguh-sungguh dan ramah
menanyakan, mengapa tidak diganti saja, ternyata persoalannya terletak
pada ketiadaan dana. Mengetahui hal tersebut Natsir tanpa basa-basi
memberikan uang pribadinya pada orang tersebut. Saat zaman orde baru ada
seorang tokoh yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Natsir merupakan
salah satu bukti lemahnya sistem manajemen umat Islam. Bagaimana tidak,
hal kecil saja seperti rusaknya tikar mushola harus sampai ke perdana
menteri, padahal hal itu bisa diselesaikan oleh orang lain. Namun
Mohammad Natsir memiliki pandangan yang berdeda,”Mungkin menurut Anda
itu tidak penting. Tapi menurut orang itu, hal itu sangat penting. Kalau
tidak datang ke saya, ia datang ke siapa lagi”, subhanalloh, sungguh
sosok pemimpin yang bersahaja. Ya, Mohammad Natsir adalah sosok ulama
yang mengisi hidupnya dengan selalu dekat dengan umat. Maka tidak heran
jika beliau juga dijuluki Khadimul Ummah. KH Hasan Basri memberi
kesaksian bahwa setiap kali ada permasalahan umat, jam enam pagi beliau
sudah ditelpon Natsir. “Setiap kali saya mengangkat telepon dan Mohammad
Natsir yang bicara, bergetar hati saya ini. Dalam percakapannya tidak
pernah beliau membicarakan masalah pribadi atau golongan. Tapi yang
dibicarakan selalu nasib umat bagaimana, nasib agama bagaimana?” terang
Hasan Basri.
Tak henti-hentinya saya memuji Alloh. Subhanalloh. Ya, Alloh Maha
Adil dan Bijaksana. Dibalik segala macam aktivitas dan rutinitas harian,
Dia mengizinkan makhluknya untuk beristirahat. Untuk mengambil jeda
dalam hidup sehingga kemudian dapat kembali tampil prima dan lebih baik
dari sebelumnya. Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, jeda tidak
berarti serta merta berhenti, akan tetapi dapat dilakukan dengan
pengalihan aktivitas. Bisa jadi pengalihan aktivitas inilah justru yang
kita butuhkan dan bahkan bisa bermanfaat bagi orang lain, seperti yang
telah dilakukan oleh Mohammad Natsir.
Jeda identik dengan peristirahatan. Ya, hal ini memang tidak dapat dipungkiri. Namun hal yang perlu diingat, peristirahatan hanya bisa bermanfaat dengan dua syarat. Pertama, dilakukan hanya dalam waktu sementara dan temporal. Kedua,
tidak keluar dari batas-batas yang dibenarkan oleh syari’at. Jika
melenceng dari syarat ini, peristirahatan dan jeda akan berakibat
seperti yang tidak diharapkan, misalnya kelemahan, kemalasan, bahkan
keterjerumusan pada tipu daya syaitan. Jadi, peristirahatan dan jeda ini
penting dalam sebuah rutinitas, namun penerapannya tidak boleh
berlebihan. Seorang ulama Mesir Hasan al Banna menuturkan dengan
uangkapan, “Mujahid sejati adalah yang tak tidur sepenuh kelopak
matanya, dan tidak tertawa selebar mulutnya”.
Rasanya lega saya dapat menuliskan hal ini. Karena dengan menulis
sebenarnya saya juga sedang menerapkan jeda dalam hidup untuk bisa lebih
optimal dalam menjalani aktivitas di hari esok dengan pikiran lebih fresh.
Sejujurnya hari ini kelelahan sedang menimpa diri saya. Mungkin fisik
nampak tidak begitu lelah, tapi entah mengapa pikiran rasanya telah
bertumpuk dan tertimbun sesuatu. Saya coba untuk lebih mendekatkan diri
pada sang Khaliq dan menikmati ayat demi ayat dalam kitab suci-Nya.
Setelah itu perasaan saya mulai membaik, namun rasanya masih ada secuil
perasaan yang belum terobati. Kepala saya mendadak pusing seperti terisi
oleh benda yang berat. Penyakitkah ini? Ah, saya rasa bukan. Atau
mungkin stress ringan? Ya, bisa jadi. Tapi sejujurnya saya tidak ingin
mengisi hari-hari saya hanya dengan tidur di atas ranjang untuk
mengobati rasa pusing yang saya rasakan dan tingginya suhu badan saya.
Ada hal lain yang tidak terobati. Akhirnya saya coba untuk membaca buku
dan majalah. Kemudian saya coba untuk menulis. Mungkin hanya tulisan ini
yang bisa saya torehkan sebagai penawar kejenuhan yang saya rasakan
hari ini. Lega dan senang rasanya. Alhamdulillah saya menemukan passion baru
dan alternatif baru ketika kejenuhan itu datang. Ya, saya menemukan
cara saya untuk beristirahat dan melakukan jeda. Alhamdulillah saya
masih bisa hidup produktif walau kejenuhan datang melanda, karena saya
telah menemukan cara ini. Terima kasih ya Allah..

No comments:
Post a Comment