Dakwah yang kini kian hari kian melebarkan sayap dakwahnya maka dibutuhkan kader-kader yang harus siap sedia mengisi pos-pos sayap dakwah tersebut. Tetapi hal ini tidak diiringi dengan penambahan kuantitas SDM yang memadai, yang berakibat terjadinya double bahkan triple amanah. Maka menjadi suatu pertanyaan besar adalah bagaiman sikap seorang kader dakwah dalam menanggapi problematika tersebut? Seorang kader harus bijak, berani bersikap dan bertindak dalam mengambil keputusan yang tidak berlaku dzalim terhadap dirinya. Dalam hadits Arbain Imam An-Nawawi, hadits ke 24 menyebutkan...Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan kedzaliman kepada diri-Ku dan aku menjadikan kedzaliman itu haram diantara kamu. Oleh karena itu, jangnlah kamu saling mendzalimi...(HR Muslim). Dari hadits tersebut kita diperintahkan untuk tidak berlaku dzalim baik terhadap sesama makhluk Allah maupun terhadap diri pribadi.
Mungkin amanah yang diamanahkan itu merupakan amanah yang sama-sama baik adanya. Tapi sebagai seorang kader kita harus melihat prioritas utamanya. Dalam buku Fiqh Aulawiyat karangan ulama kontemporer abad ini Yusuf Qaradhawi dipaparkan dengan jelas tentang apa itu skala prioritas dan bagaimana memandang prioritas itu sendiri. Sebagai seorang kader dakwah masa kini, dimana tuntutan dakwah lebih besar ketimbang jumlah kader yang ada, maka pemahaman aplikasi dari fiqih prioritas ini dalam kehidupan berdakwah di kampus menjadi sebuah kebutuhan tersendiri yang penting. Sub-bab manajemen prioritas dalam konteks peran tanggung jawab dakwah di kampus adalah memilih di antara dua pilihan yang baik. Karena kita akan berbicara mengenai peran kita sebagai kader yang memiliki tanggung jawab di banyak tempat. Dari beberapa tanggung jawab yang ada, tanggung jawab mana yang harus di dahulukan, atau tanggung jawab mana yang harus diberikan alokasi waktu dan pikiran secara lebih.
Manusia memang pada dasarnya selalu hidup dalam dilematika pilihan, dan itu memang fitrah manusia dimana menjadi tanggung jawab bagi kita semua untuk mampu membuat prioritas yang paling bermanfaat bagi diri agar kita bisa mencapai tujuan hidup yang ada.
Kader dakwah kampus yang tentunya juga mahasiswa mempunyai berbagai peran dalam hidupnya, ia sebagai mahasiswa, ia sebagai seorang anak, ia seorang pemimpin organisasi atau staff kepanitiaan, ia seorang tutor, atau ia juga berperan di berbagai tempat lain. banyak sekali peran yang harus dijalankan sebagai kader dalam waktu bersamaan. Terlepas dari berbagai peran yang dimiliki saat ini, maka seorang kader dakwah kampus dalam konteks perannya sebagai kader diharapkan memiliki peran tanggung jawab dakwah (amanah).
Sebagai seorang kepala departemen atau staff departemen kita harus bisa bersikap profesional dan bertanggung jawab terhadap arahan dan tugas yang diberikan. Meskipun, mungkin mereka juga beraktifitas di tempat lain, kita harus berpikir positif bahwa ia memilih banyak amanah karena mengetahui bahwa ia mempunyaikapasitas yang besar, dan kita harus yakin bahwa ia akan bisa menjalankan arahan dan tugas yang diberikan dengan baik. Ketika Anda berada dalam forum sebuah organisasi Anda, maka Anda dituntut untuk selalu 100 % untuk organisasi tersebut, sekali lagi jangan jadikan kesibukan lain Anda sebagai alasan untuk tidak tuntas menjalankan amanah dengan baik. Jika itu Anda lakukan maka ada dua konsekuensi yang perlu Anda hadapi, yakni Anda telah mengecewakan dan mendzalimi saudara seperjuangan Anda, serta tanggung jawab akhirat Anda dengan Allah.
Menurut hemat saya adalah suatu kesalahan ketika ada seorang kader yang membuat list prioritas-prioritas dalam mengemban amanahnya, yang berakibat pada prioritas 1 lebih ia utamakan dan bisa berdampak pada terdzaliminya amanah prioritas 2. Padahal di amanah prioritas 2 ia juga mempunyai peran yang juga diharapkan oleh kawan-kawannya lain. ini adalah contoh kasus ketika amanah di pandang sebagai list prioritas secara vertikal.
Ana mencoba memandang list amanah dakwah ini secara horizontal, dimana Anda memporsikan dengan seimbang dan maksimal dari sekian amanah yang Anda miliki. Hal ini bisa berdampak pada optimasi kinerja Anda sendiri, hal ini bisa terjadi karena memang Anda memandang semua amanah Anda itu PENTING, dan Anda memandang diri Anda juga berperan PENTING dalam Amanah ini. Adanya prioritas hanya untuk mengatasi jika ada bentrok dua amanah dalam satu waktu, akan tetapi pola penentuan prioritasnya juga tidak bisa selalu sama. Sebutlah Amanah A selalu lebih penting ketimbang Amanah B, akan tetapi dengan melihatkebermanfaatan Anda dalam satu waktu tersebut. Sebutlah Anda mengalami bentrok jadwal antara rapat amanah B dan tanda tangan kerjasama kontrak sponsoramanah A, maka dalam kondisi ini, Anda bisa memilih amanah A dimana tanda tangan Anda tidak bisa diwakili, sedangkan rapat bisa dilegasikan dengan arahan yang jelas. Dalam kondisi lain antara amanah A dan B bisa berubah prioritasnya, tergantung keadaan.
Disinilah kemampuan delegasi dan percaya pada rekan kerja menjadi sangat penting, Anda bisa mulai belajar untuk memberikan kepercayaan Anda ke rekan kerja untuk menjalankan peran Anda sementara Anda mengerjakan yang lain, dengan catatan, ada arahan dan bekal yang jelas. Jika semua bisa disampaikan dengan baik, maka menurut saya masalah keterbengkalaian amanah dapat diminimalisirkan. Selain itu, Anda juga perlu mengumpulkan keberanian Anda untuk mengatakan TIDAK kepada seorang yang akan memberikan amanah tambahan jika Anda merasa sudah tidak mampu. Lebih baik tidak usah berjanji untuk bersedia menjalankanamanah ketimbang mengecewakan dan menzalimi saudara Anda di kemudian hari.
Penerapan manajemen prioritas ini bukan tanpa kendala, biasanya sering menghadapi masalah yang berasal dari diri sendiri, seperti merasa tidak enakkan dengan rekan dakwah, ambisi pribadi, ego dan emosi yang diturutkan, dan kegagalan manajemen waktu. Kendala lain dari sisi eksternal adalah kondisi force majeur yang tidak pernah diduga, dan tekanan kader lain terhadap diri kita.
Berpeganglah pada keyakinan terhadap kapasitas pribadi, ketika Anda sudah bisa mengukur kapasitas pribadi, dan memiliki manajemen waktu yang baik, makaamanah yang Anda emban akan bisa Anda pertanggungjawabkan dengan baik di dunia dan akhirat..
*) disarikan dari berbagai sumber dengan perubahan seperlunya
Ditulis pada 26 March 2012
No comments:
Post a Comment