Hidup adalah anugerah
tetap jalani hidup ini
melakukan yangterbaik
Tuhan pasti kan menunjukkan
kebesaran dan kuasaNYA
bagi hambanya yang sabar
dan tak pernah putus asa
(D'Masiv -- Jangan menyerah)
(D'Masiv -- Jangan menyerah)
Siapa yang belum pernah dengar lagu di atas? Ngacung! Hayyo ngaku,, ada CDnya gratis ni!! hi hi…
*KIDDING ahh! (takut ditagih, sayanya aja gak punya kok) :D
Gini…,
gini…. Inti lagu di atas adalah kita diminta untuk tetap SEMANGAT,
PANTANG MENYERAH, dan SELALU BERSYUKUR atas setiap episode hidup yang
kita jalani. Beragam manusia di dunia, masing-masing punya rezeki,
ujian, keadaan, peran, dan peruntungan yang tak mungkin seragam.
Ada
yang terlahir dengan hidung mancung, kulit putih, badan semampai, mata
indah, dan segala pernik keindahan fisik lainnya, tapi ada juga yang
standar, di bawah standar, bahkan mungkin (maaf) tidak sempurna secara
penilaian manusia. Ini baru penggambaran dari segi fisik saja, biar
gampang dicerna.
Selanjutnya
dari sisi materi, ada yang harta bonyok (bokap nyokap) nya ga abis mpe’
7 turunan, ada yang pas-pasan, ada yang serba kekurangan. Belum lagi
dari sisi prestasi, peran, profesi, dan lain sebagainya.
Sungguh-sungguh bervariasi bukan?
Lalu siapa dari sekian macam manusia itu yang paling beruntung dan akan merasakan kebahagiaan?
SAYA!
Yah, katakan saya! SAYA yang paling bahagia dengan segala karunia yang
Allah berikan. SAYA yang paling beruntung atas nikmat yang ada saat
ini. SAYA menikmati setiap peran yang sedang dijalani. SAYA yang
paling BAHAGIA, selama SAYA bersyukur!
Setuju?!
Oww, ternyata masih ada yang belum setuju toh? Baiklah, kita lanjuuutt.
Rasa
syukur yang kita tanamkan akan menghadirkan kebahagian dalam hati,
seperti apapun peran yang Allah sediakan dalam setiap episode hidup
kita. Namun bukan berarti syukur tanpa usaha untuk meraih cita-cita.
Bersyukur bukan berarti pasrah dan tak lagi bermimpi. Bukan, bukan
seperti itu maksudnya.
Pernah dengar lagu zaman dulu yang liriknya kira-kira seperti ini:
Dunia ini panggung sandiwara
ceritanya mudah berubah
bla…bla…bla…
Yah…, dunia ini panggung sandiwara, dan Allah pengatur jalan ceritanya.
Allah SWT berfirman:
“Dan
tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau
belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang
bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’Am: 32)
“Dan
tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka
mengetahui.” (QS. Al-Ankabut: 64)
“Sesungguhnya
kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu
beriman serta bertaqwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia
tidak akan meminta harta-hartamu.” (QS. Muhammad: 36)
Maka jalani setiap sandiwara dengan syukur dan sabar. Bukankah ini ciri keistimewaan seorang insan beriman?
Rasulullah SAW bersabda,
“Sungguh
mengherankan perkaranya orang mukmin, karena setiap perkaranya akan
baik baginya, apabila dia mendapatkan kenikmatan maka dia bersyukur dan
itu baik bagi dia, dan apabila ia mendapatkan musibah maka ia bersabar
maka itupun baik bagi dia” (HR Bukhari)
Tak ada yang buruk bukan? Semuanya baik, dan semua bisa membuat kita bahagia.
Orang
yang bersyukur akan melihat segala karunia yang ia miliki, lalu ia
bahagia. Sedangkan orang yang tidak bersyukur akan sibuk menghayalkan
apa-apa yang menjadi karunia orang lain dan tidak ia miliki, lalu ia
nelangsa dan sengsara.
Sebagai contoh:
Seorang
pekerja selalu mengeluhkan kesibukannya, pekerjaan yang tak kunjung
usai, hingga waktunya yang habis untuk lembur. Ia stress karena merasa
terbebani. Sebaliknya, seorang pengangguran berkhayal alangkah indahnya
jika hari-harinya disibukkan dengan beragam aktivitas yang
menghasilkan, mendapatkan gaji setiap bulan, atau duduk di depan
komputer dan keluar masuk kantor setiap harinya.
Seorang
single merasa nelangsa karena hari-harinya terasa sunyi, sepi, sendiri,
tak ada yang menemani (hi hi, laguuuu kali). Sedangkan seorang istri
merasa iri melihat temannya yang single karena bebas berbuat, bebas
pergi ke manapun ia suka, bebas menikmati hidup, tanpa harus terikat
banyak aturan rumah tangga.
Dan masih banyak ilustrasi lain yang sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari.
Lalu
kita balikkan. Seandainya pun mereka-mereka tadi bertukar peran,
apakah lantas otomatis akan bahagia? TIDAK, selama mereka masih belum
bisa bersyukur.
Sekali
lagi, bersyukur bukan berarti berhenti bermimpi. Tetap kita gantungkan
mimpi setinggi bintang di langit (gimana tuh cara gantungin ke bintang)
:D
Tapi
di sela-sela mimpi yang belum di raih. Di antara ikhtiar yang tak
henti dijalani, mari sisipkan selalu rasa syukur di dalam hati. Tetap
jalani hidup dengan melakukan yang terbaik, berbuat dan bekerja untuk
menggapai impian, dan biarkan Allah sebagai sutradara yang menentukan.
Entahlah
akan seperti apa peran kita di atas panggung sandiwara ini. Tapi
seperti apapun jadinya, mari bersyukur, berbuat, dan tawakkal ilallah.
Karena Allah yang Maha Luas PandanganNya, pasti lebih bijaksana dalam
menetapkan segala sesuatu.
Dan
percayalah, dari setiap tetes peluh dan air mata. Dalam lelah dan
payah usaha, tak pernah ada yang sia-sia. Meski kadang hasil tak sesuai
harapan (kita), tapi yakin bahwa tak ada yang sia-sia.
“Dan
Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta
orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan
dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang
nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105)
“Sesungguhnya
Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah
keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki
keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya;
dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar-Ra’d: 11)
Maka,
mulai sekarang marilah jauhi keluh kesah, karena mengeluh hanya akan
membawa alam bawah sadar pada penderitaan. Ia hanya akan menegaskan
betapa sengsara dan tidak beruntungnya kita. Ia hanya akan menyibukkan
kita untuk masuk ke dalam khayalan “andai aku jadi si A, jika aku ada
pada posisi B, seumpama aku meraih kesuksesan seperti si C, dan
seterusnya.
Lelah,
pasti tak akan pernah ada ujungnya. Karena perlu kita ketahui, si A
yang kita harapkan posisinya pun ternyata sedang berkhayal untuk menjadi
si D, Si E, atau bahkan justru ia berharap menjadi KITA! (nah lho).
Mari
bersama belajar menerapkan rasa syukur, sebenar-benar syukur. Ia akan
menghadirkan positif feeling, ketenangan, kebahagian, serta energi untuk
melakukan tindakan nyata.
Ternyata, bahagia atau tidak itu adalah pilihan ya?
Aku mau pilih bahagia ahhhh….
Kamu?
Wallahua'lam
No comments:
Post a Comment